Connect with us

Kolom

Beginilah Kehidupan Anak Band Medan di Era 90-an

anak band medan

Kehidupan Anak Band Medan di Era 90-an… Judulnya memang agak tragis. Mencerminkan usia penulis yang sudah tidak remaja eh.. muda lagi. Tapi jadi pengalaman yang akan dikenang hingga punya cucu nanti. Itu pun kalau belum keburu kiamat.

Menjadi anak band, kala itu, merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Apalagi bagi siswa seperti kami, yang kepingin tenar.

Karena saat itu di sekolah, ada 3 golongan siswa yang bisa tenar. Yang pertama, golongan cantik dan tampan. Yang kedua, golongan anak orang kaya yang ke sekolah naik kendaraan pribadi. Yang ketiga, golongan anak band dan anak sport.

Sudah bisa ditebak, kami tidak masuk di golongan pertama dan kedua (hahahaha… tragis lagi). Akhirnya demi ketenaran, kami merintis ‘karir’ sebagai anak band yang low end (alias bokek).

Skip ——->>>>>>

Daripada berlama-lama berkutat dalam ke-tragis-an yang bisa membangkitkan luka lama, mending kita lanjut ke kisah seru jadi anak band di Medan era 90-an.

Pada zaman itu, sekitar tahun 1997, nggak ada mp3 player dan internet masih langka. Yang ada kaset dan tape tua yang suaranya nggak bisa disetting.

Dan sebagai anak band low end, kami hanya punya 1 kaset dan 1 tape. Jadi kalau latihan mencari lagu, harus rame-rame.

Saat itu, genre bermusik kami, ehem… Heavy Metal. Biasanya bawa lagunya Iron Maiden, Metallica, Helloween, Led Zeppelin hingga Judas Priest. Disesuaikan dengan tampang kami yang agak sangar sikit (Apalagi jika sedang iuran buat latihan di studio).

Studio latihan pun sering berpindah. Tergantung isi kantong. Apalagi saat itu sudah banyak berdiri studio band. Mulai yang Rp7000/jam hingga Rp20.000/jam. Sudah bisa ketebak lagi, kami sering latihan di studio yang mana?

Mulai dari Studio BBC-nya Bang Ucok di Jalan Jati, Krakatau. Lalu Studio Fokus dan Studio Mita di Jalan Setia Budi. Dan ada juga Progressive di Jalan Pembangunan dan Lowrey di Simpang Kampus USU, yang keduanya jadi tempat ngumpul anak Metal kala itu.

Menjadi anak band, meski belum tenar di tingkat lokal, ternyata memang ampuh mendongkrak elektabilitas. Terbukti, kami disegani para senior, dan disayangi para junior (batu berdahak kental : mode on).

Permainan kami di panggung juga tidak mengecewakan. Alunan melody gitar elektric, mengalir bersama hentakan beat drum dan bass guitar dan dihiasi teriakan melengking khas band Metal.

Rasa percaya diri pun meningkat. Kemana-mana pakai sendal jepit, kaos oblong warna hitam dan celana jeans gadel yang nggak pernah dicuci. Dan kesemua dandanan tersebut, hasil dari saling meminjam. Hanya celana dalam yang tetap milik pribadi. Itu pun seminggu sekali cuci.

Banyak yang mengira anak Metal identik dengan narkoba. Tapi semua itu tidak berlaku bagi kami. Cemmana lah… Beli minum setelah latihan di studio aja, nggak cukup duitnya. Apalagi beli narkoba.

Begitulah, menjadi tenar tidak harus menjadi seorang social climber. Yang memaksakan bergaya orang kaya, padahal dompet kosong, rekening bank pun melompong.

Atau harus mengumbar lekuk tubuh yang nantinya akan menjadi jejak digital. Dan masih menghantui jagad maya saat anda sudah tiada.

Cukup bangkitkan potensi positif untuk menjadi sebuah prestasi .

Dah… gitu dulu lah ya. Mau nyuci aku dulu.

Thanks to :

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Keluarga dan rekan-rekan di Thundra dan Wafer. (Cem sampul kaset dulu ya kan?)

loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Kolom

error: Content is protected !!