Connect with us

Kolom

Ketika Jari Berbicara

Banyak Cakap.com – Mungkin, lagu goyang dua jari yang populer itu tidak akan pernah ada jika diciptakan pada saat musim politik seperti sekarang ini.

Saya yakin, sang pencipta lagu tersebut lebih memilih untuk memberikan judul yang lain dan menghilangkan kata ‘dua jari’ pada setiap liriknya.

Bayangkan coba bila tetap memaksa, bisa-bisa dianggap makar, simpatisan gerakan #2019gantipresiden, kampanye tersembunyi, atau yang paling ringan ya…dipanggil ‘Kampret’. Atau mungkin….judul lagu diganti jadi goyang satu jari (mungkin ini lebih aman).

Tapi untunglah, lagu ini sudah viral jauh sebelum kontestasi pemilu capres/cawapres ini semakin hot. Sehingga tidak membawa masalah bahkan ketika liriknya sering diganti dengan nama salah satu kandidat.

Selain kardus, jari juga menjadi primadona di tahun politik ini. Jari, jika dikaitkan dengan sebuah pose yang menunjukkan satu jari ataupun dua jari maka secara impulsif diartikan menjadi simbol dukungan kepada salah satu kandidat capres dan cawapres.

Tidak masalah memang, dan hal ini sah-sah saja dilakukan. Tetapi ternyata ketika jari berpose disaat sekarang ini, maka ada saja hal menarik yang terjadi.

Seperti yang terjadi dengan Anis Baswedan, Gubernur DKI Jakarta ini dilaporkan ke Bawaslu oleh Presidium Garda Nasional untuk Rakyat (GNR) Agung Wibowo Hadi.

Anies dilaporkan karena melakukan pose dua jari di Konferensi Nasional Gerindra di Bogor dengan alasan hal tersebut merupakan bentuk dukungan kepada kandidat no. 02.

Dan ini dianggap sebagai sebuah bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pejabat publik.

Sebelumnya publik juga sempat dibuat heboh oleh sebuah insiden pose dua jari yang dilakukan oleh Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) Christine Lagarde, di Bali.

Yang membuat heboh bukan pose dua jarinya, melainkan kericuhan para menteri yaitu Luhut dan Sri Mulyani untuk merevisi pose tersebut menjadi pose satu jari.

Akhirnya mereka semua pun berfoto dengan pose satu jari, yang tentu saja hal ini juga bisa dianggap kampanye terselubung. Untungnya tidak ada laporan dan tindak lanjut untuk tragedi ini (ternyata ini lebih aman).

Begitulah ketika jari berpose di tahun ini. Seharusnya pose satu jari ataupun dua jari bisa mewakili banyak arti, namun kini semua arti tersebut dimonopoli oleh arti politik kontestasi : Jokowi atau Prabowo.

Belakangan, pose jari ini seperti melebarkan sayap, tidak hanya sekadar perkara pilihan politik kontestasi tetapi sudah sampai pada level aspirasi. Ketidakpuasaan atas kondisi negeri saat ini sepertinya lebih gampang disampaikan dengan pose dua jari.

Seperti yang dilakukan oleh rombongan pelajar NU yang dibawa Sekjen Pengurus Besar (PB) NU Helmy Faisal Zaini dan sejumlah pengurus PBNU, bersama Menteri Pemuda Imam Nahrowi mereka bertemu Jokowi di Istana Merdeka.

Ketika dilakukan sesi foto resmi di tangga istana, beberapa remaja tersebut mengacungkan pose dua jari, padahal Helmy Faisal Zaini, Pengurus PBNU dan beberapa murid lainnya mengacungkan pose satu jari.

Di Riau sejumlah remaja malah mengacungkan salam dua jari di depan Jokowi yang dikawal Kepala BIN Budi Gunawan dan Wakil Kepala BIN Teddy Lhaksana.

Seperti apapun kini jari mampu berbicara. Kita harus tetap ingat bahwa kontestasi ini adalah sebuah pesta demokrasi.

Layaknya sebuah pesta, akan menjadi indah dan penuh makna bila kita rayakan dengan gegap gempita kebersamaan dalam kegembiraan.


loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Kolom

error: Content is protected !!