Connect with us

Kisah Nyata

[Kisah Nyata] Covid itu telah merenggut semua keluargaku

“Dek, bangun. Bangun, Dek.”

Seseorang telah menggoyang-goyangkan kakiku. Masih dengan rasa kantuk yang sangat, aku mencoba membuka mata. Kulihat Kak Devi di sana.

“Ada apa sih, Kak. Malam-malam bangunin Dani. Masih ngantuk ini.” Aku membalikkan badan, bersiap tidur lagi.

“Eit, koq malah tidur lagi.” Kak Devi membalikkan tubuhku ke posisi semula. “Bangun, Dek. Penyakit Mama makin parah.”

Deg!

“Mama kenapa?” Aku terlonjak bangun begitu mendengar kata ‘Mama’. Memang, sudah beberapa hari ini penyakit jantung Mamaku kambuh. Mungkin karena kecapekan kerja sebagai pengajar. Tapi bila diajak berobat ke rumah sakit Mama tak pernah mau. Takut covid katanya.

“Sepertinya makin parah. Kakak dan Papa mau bawa Mama ke rumah sakit. Kamu di rumah ya, jagain anak Kakak,” perintah Kak Devi. Kak Devi memang sudah menikah dan mempunyai dua anak balita. Yang pertama Dio, 4 tahun dan kedua Bima, 2 tahun. Suaminya, Mas Revan kerja pelayaran dan jarang di rumah. Itulah mengapa Kak Devi masih kumpul satu rumah dengan kami karena Mama yang meminta.

Kami sendiri dua bersaudara. Dan aku, Dani, anak bungsu baru naik kelas tiga SMA.

“Nanti, kalau Bima tengah malam bangun minta susu, tuh sudah Kakak siapin di meja dapur. Tinggal tuang airnya satu botol full,” jelasnya lagi.

“Botol Dio juga sama, sudah Kakak siapin.” Aku cuma mengangguk.

“Jaga rumah baik-baik, ya Dek,” pamit Papa sebelum masuk mobil.

Aku menyaksikan Mama digotong Papa dan Kakak ke dalam mobil, dan langsung meluncur ke rumah sakit.

Aku menutup pintu dan menguncinya. Lalu masuk ke kamar Kak Devi, dimana dua ponakanku sedang terlelap. Aku berbaring di samping Bima. Berharap ponakanku itu tak bangun minta susu. Aku ingin melanjutkan tidurku yang tertunda. Apalagi kulihat jam di dinding sudah menunjuk angka 00.15 dinihari.
Namun impian tak seindah kenyataan. Baru mau memejamkan mata, Bima terbangun. Ia menangis mencari-cari Bundanya. Aku berusaha menghibur. Kuberikan susu yang sudah terisi air sesuai arahan Kak Devi. Tapi begitu susu habis, Bima kembali menangis. Ditambah Dio akhirnya ikut terbangun karena tangisan keras Bima. Lengkap sudah. Aku jadi bingung. Untung Dio setelah diberi susu kembali tidur. Tinggal Bima yang agak rewel mencari-cari Bundanya. Maklum, selama ini tak pernah terpisah dengan Kak Devi. Terpaksa aku menggendong Bima, membujuknya dan mengajaknya bermain. Hingga menjelang subuh, karena kecapekan kuajak main, Bima akhirnya tertidur.

Kurasa baru beberapa menit mata ini terpejam, ketika kudengar pintu diketuk dari luar. Dengan mata yang masih mengantuk, aku membuka pintu. Ternyata hari sudah mulai pagi. Kulihat Kak Devi pulang sendiri.

“Mama opname, Kak?” tanyaku begitu membuka pintu. Kak Devi mengangguk.

“Gimana dengan Bima dan Dio? Rewel, nggak?”

“Banget. Bima tuh, nangis terus nyariin Kakak,” sahutku sambil menguap. “Tau nggak, jelang subuh baru tidur lagi.” Aku menunjuk ponakanku Bima yang terlelap di ruang tengah.

“Kakak nanti balik lagi ke rumah sakit, Dek. Gantiin Papa jagain Mama. Setelah bikin sarapan Kakak berangkat. Nitip anak-anak Kakak lagi, ya?”

“Duh, Kak. Bukannya Dani nggak mau, ituu Bima nangis mulu nyariin Kakak,” ucapku bingung.

“Tenang, Kakak sudah telepon Mas Revan. Paling nanti siang sudah nyampai sini, naik penerbangan pagi. Untung saja Mas-mu itu kapalnya lagi sandar jadi bisa ijin pulang,” kata Kak Devi. Mas Revan ikut kapal suplay bahan bakar, jadi setiap 4-5 bulan sekali baru bisa pulang ke Surabaya.

Benar saja, menjelang sore Mas Revan datang. Aku lega, sudah ada yang menggantikanku menjaga dua ponakanku itu. Tapi, Bima ternyata tak begitu akrab dengan Ayahnya. Ia malah tak mau digendong, dan lebih memilihku. Terpaksa aku yang momong Bima. Tak apalah, setidaknya aku ada temannya di rumah untuk momong dua krucil itu.


Setelah beberapa hari Mas Revan di rumah, Bima mulai mau disentuh Ayahnya. Aku senang, karena dengan begitu aku tak repot-repot lagi momong. Aku bisa main game online sepuasku, karena sudah beberapa hari ini aku off nge-game. Aku kangen mabar (main bareng) dengan teman-temanku.

Siang ini, keinginanku mabar game mobile legend dengan teman-teman SMA ku terkabul. Dengan mic on, acara mabar begitu seru. Saking serunya aku sampai tak tahu kalau Papa datang dan uluk salam.

“Ya Allah, Dek. Papa uluk salam dicuekin,” komentar Papa begitu masuk rumah. Aku cuma menatapnya sekilas karena masih asik mabar. Tak kuhiraukan Papa. Beliau langsung masuk kamar. Kudengar Papa batuk-batuk kecil. Mungkin kecapekan karena menjaga Mama semalaman.

Iya! Papa pulang hanya untuk istirahat sebentar. Beliau bergantian menjaga Mama dengan Kak Devi. Sore Papa kembali ke rumah sakit dan jagain Mama sampai keesokan harinya. Begitu setiap hari. Untung Papa sudah pensiun dari tugasnya sebagai anggota TNI.

“Dek, nggak pengen lihat Mama?” tawar Papa sore itu sebelum kembali ke rumah sakit. Aku hanya menggeleng. Nanggung, karena masih asik menyelesaikan game mobile legend.

“Allah! Dari tadi main game mulu.” Papa batuk-batuk lagi. “Sudah sore, kalau nggak ikut ke rumah sakit mending latihan lari sana. Katanya pengen jadi tentara,” tukas Papa begitu melihatku masih asik berkutat dengan game.

“Iya, Pa. Bentar lagi finish,” sahutku pendek. Papa cuma geleng-geleng kepala. Kembali kudengar Papa batuk-batuk kecil. Karena sudah keasikan main ML aku tak menghiraukan Papa yang berangkat ke rumah sakit.

Lima hari berlalu, ketika Papa memberi kabar yang menyedihkan.

“Mama kena covid, hasil swab kemarin positif. Sekarang Mama sudah masuk ruang isolasi.”

Kami semua terhenyak. Terlebih Kak Devi yang paling dekat dengan Mama. Dari pihak rumah sakit, kami satu rumah diperintahkan untuk menjalani rapid tes. Karena sudah ada yang terpapar. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak rumah sakit, beberapa menit kemudian hasil rapid tes keluar. Semua reaktif, kecuali Mas Revan dan dua ponakanku Dio dan Bima. Kami semua mengisolasi diri di rumah. Mama sudah tak boleh ditungguin lagi.

Dua hari Mama di ruang isolasi, kami mendapat kabar Mama kritis. Mama dipindahkan ke ruang ventilator. Kami tak bisa berbuat banyak, kami hanya bisa berdoa di rumah semoga diberi yang terbaik buat Mama.

Dan, kabar duka itupun akhirnya datang. Mama dipanggil oleh Yang Maha Kuasa setelah hampir sepuluh hari berjuang melawan sakitnya. Aku tak bisa membendung airmata. Merasa menyesal belum sempat ketemu Mama. Kenapa kemarin dulu tak ikut Papa menjenguk Mama saat di rumah sakit? Tapi semua sudah terlambat. Jenazah Mama dari rumah sakit langsung di bawa ke pamakaman khusus covid di Keputih Sukolilo, dengan prosesi pemakaman standar pasien covid. Melihat jenazahnya saja kami anggota keluarganya tak bisa. Akhirnya Papa minta jamaah Masjid dekat rumah untuk menyolatkan almarhumah Mama dengan salat ghoib.

Sepeninggal Mama, penyakit bawaan Papa kambuh.Tekanan darah Papa tinggi. Ditambah kondisi Papa yang batuk-batuk sudah satu minggu lebih makin menambah parah penyakitnya.

Kini, giliran Papa di bawa ke rumah sakit. Di sana langsung menjalani swab. Begitu hasil swab keluar, Papa positif covid. Ya, Allah! Cobaan apalagi ini. Aku lemas seketika. Baru dua hari Mama meninggal, kini Papa sudah menjalani isolasi di rumah sakit yang sama.

Tak hanya Papa, kami semua akhirnya diwajibkan menjalani tes swab. Karena kulihat Kak Devi juga mengalami hal yang sama dengan Papa. Bahkan lebih parah. Suhu badannya tinggi dan ada sesak napas. Dari hasil swab, selain Papa ternyata Kak Devi juga positif covid.
Otomatis, Kak Devi mengikuti jejak Papa menjalani perawatan di ruang isolasi rumah sakit. Dan, rumah kami juga disemprot disinfektan untuk membunuh virus yang masih menempel.

Hatiku hancur. Orang-orang yang kusayang semua terpapar virus yang belum ada obatnya itu. Kini, di rumah tinggal aku dan Kakak iparku Mas Revan, juga anak-anak Mas Revan. Aku banyak berdoa, semoga orang-orang terkasih segera diangkat penyakitnya oleh Allah.

Namun, takdir berkata lain. Tepat satu minggu setelah Mama meninggal, Papa menyusul. Bumi yang kupijak seolah gempa. Aku limbung. Aku kehilangan sosok panutan. Aku menangis mendengar kepergian Papa. Seperti almarhumah Mama, jenazah Papa langsung di bawa ke pemakaman khusus covid. Kembali aku tak bisa melihat Papa untuk yang terakhir kalinya. Papa juga disalatkan dengan salat ghoib oleh jamaah Masjid dekat rumah seperti almarhumah Mama dulu. Tak ada tetangga yang takziah, aku maklum mereka takut tertular. Mereka hanya bergerombol agak jauh dari rumah. Biarpun aku, Mas Revan dan anak-anaknya negatif, tapi kami diperintahkan untuk isolasi mandiri di rumah karena kami termasuk OTG, orang tanpa gejala. Dan bisa jadi pembawa virus.

Dari balik gorden, kulihat beberapa ibu yang bergerombol depan rumah banyak yang mengusap matanya. Seolah mereka terenyuh melihatku yang yatim piatu dalam waktu tak sampai sebulan. Airmata ini terus luruh mengenang kepergian Papa dan Mama yang begitu cepat.

Alhamdulillah. Biarpun tetangga tak ada yang takziah, tapi mereka begitu peduli dengan kami yang menjalani isolasi mandiri. Tiap hari, bergantian ada saja yang mengirimkan makanan ke rumah dengan cara dicantolkan di pagar. Sedikit terhibur, karena kami tidak dikucilkan di lingkungan komplek rumah kami sendiri. Bahkan, bude Yani, satu-satunya saudara Mama yang tinggalnya tak begitu jauh dari rumah sering menengok kami meski dari jarak jauh. Beliau selalu aktif menelepon menanyakan kebutuhan-kebutuhan kami selama kami menjalani isolasi.

Rasa bahagia belum berpihak padaku. Sepertinya Allah sedang menguji keikhlasanku. Entah kebetulan atau tidak, tepat setelah satu minggu Papa berpulang, giliran Kak Devi dipanggil oleh Allah. Habis sudah keluargaku. Dalam waktu tak sampai satu bulan, satu persatu orang tersayang dipanggil olehNya. Aku kehilangan tiga orang sekaligus dalam waktu tiga minggu. Duniaku runtuh. Tangisku membuncah. Aku tak tahu bagaimana kelanjutan hidupku nanti. Aku sudah tak punya siapa-siapa.

Beberapa hari aku mengurung diri di kamar Papa. Kupandangi baju dinas Papa yang masih tergantung di pintu kamar. Baju dinas terakhir yang dipakainya saat mengurus surat-surat pensiun dua bulan yang lalu dan belum sempat dicuci. Kuciumi baju itu, menumpahkan rasa yang menyesak di dada.

“Papa, Dani kangen,” tangisku pecah.

Kembali penyesalan itu datang. Masih terngiang ucapan Papa beberapa bulan yang lalu.

“Dek, serius ingin jadi tentara kayak Papa?” tanya Papa suatu hari. Saat itu aku asik main game online.
Aku cuma mengangguk.

“Mulai sekarang wajib latihan fisik biar kuat,” saran Papa. “Sanaa lari muterin lapangan komplek daripada main game.”

“Iya, Pa.”

“Jangan iya-iya. Simpan dulu handphone itu. Perasaan beberapa hari ini kamu intens main game nya daripada latihan buat persiapan daftar tentara,” omel Papa.

“Tenang, Pa. Masih lama.” Aku masih asik berkutat dengan gawaiku. “Kan, satu tahun lagi Dani baru lulus.”

“Terserahlah. Papa cuma takut kamu lupa dengan cita-citamu jadi tentara kalau keseringan main game,” ucap Papa sebelum berlalu dari hadapanku.

Kini, semuanya sudah pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa. Semoga Allah menempatkan mereka di JannahNya. Sekarang aku tak tahu kepada siapa aku bersandar. Aku benar-benar sendiri. Aku masih butuh bimbingan dan arahan.

“Meski Mas cuma Kakak ipar, tapi Mas sudah menganggap kamu seperti adik sendiri. Tak usah berlarut dalam kesedihan, ada Mas yang menjagamu.” Seolah mengerti kegundahanku, Mas Revan menghiburku kala aku termenung di ruang tengah. Dielusnya punggungku.
“Mas akan selalu ada buat kamu.”

“Dani bingung, Mas. Kalau Mas Revan kembali berlayar, anak-anak Mas Revan dan Dani bagaimana?”

“Mas berniat menitipkan anak-anak ke desa, ke rumah ibu Mas. Terserah Dani, mau ikut Mas di desa apa tetap di sini tinggal bersama bude Yani?”

Dulu, bude Yani pernah menawariku untuk tinggal di rumahnya usai Papa dikebumikan. Karena bude dan Pakde Yani cuma hidup berdua. Dua anak mereka sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Tapi aku belum memberi jawaban. Aku masih bingung dan berduka. Sepertinya aku akan ikut bude Yani. Karena sekarang hanya bude Yani saudara yang kupunya. Apalagi aku sudah kelas tiga, tinggal satu tahun lagi baru lulus SMA.

“Mungkin, Dani akan ikut bude Yani, Mas. Tinggal satu tahun lagi sekolahnya. Sayang kalau harus pindah. Setelah itu, tak tahu bagaimana nanti,” kataku lirih. Mas Revan manggut-manggut.

“Semua terserah kamu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan telepon Mas.”

Aku mengangguk. Cepat atau lambat, aku harus meninggalkan rumah ini. Ini rumah dinas, sedang kedua orang tuaku sudah meninggal semua jadi rumah ini wajib untuk dikembalikan. Kecuali kalau aku jadi anggota TNI. Aku bisa mengambil alih atas rumah dinas ini. Iya, jadi anggota TNI. Tiba-tiba saja hatiku bergejolak. Aku ingat dengan cita-citaku. Aku ingat dengan keinginan Papa yang menyuruhku untuk mengikuti jejak beliau.

“Papa! Dani ingin jadi tentara, Pa! Bantu Dani! Bimbing Dani!” teriakku histeris. Lalu, sedetik kemudian aku limbung. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi.

Tamat

By : Zubaidah Nch Zube

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Kisah Nyata