Connect with us

Kisah Nyata

[Kisah Nyata] “Siswi Cantik Itu Curhat Tentang Payudaranya, lalu…”

Ceritaku ini sepuluh tahun lalu. Aku lupa-lupa ingat, mungkin saat itu tahun 2010. Terkadang aku iri dengan teman guru lain. Selesai mengajar langsung pulang ke rumah. Besoknya ngajar lagi. Ayem tenan hidupnya.

Mentok, ada masalah kedisiplinan, lalu lapor BK, atau panggilan ortu, skorsing, selesai. Sayang, aku bukan yang begitu. Mungkin karena wajahku melas atau apa. Yang pasti jelek kuadrat.

Banyak sekali siswa yang curhat padaku. Maklum aku jomblo. Nganggur. Aku itu seperti magnet. Dekat masalah. Rata-rata kasus ringan sampai berat. Siswa minggat, tidak bisa bayar SPP, ngambek karena tidak dibelikan motor, bimbingan penelitian, tulisan, urusan lomba robot, film, KIR atau foto, kecelakaan, narkoba, trek-trekan, tawuran, ada-ada saja. Namanya juga anak-anak remaja. Bikin ngelus dada. Dadaku sendiri. Dada siswaku juga tentu tak boleh. Haram. Haram. Ente bahlul.

Nah, cerita ini tentang “ada-ada aja”. Saat aku sedang nyepi, di bawah pohon Bidara. Nyari wangsit. Seorang anak curhat ia minggat dari rumah. Terpaksa aku suruh dia nginap di kontrakan. Aku telepon ayahnya. Aman. Selama aku bisa, bagiku no problem. Jika aku bisa, aku bantu. Someday, ada anak cewek curhat ke aku. Ujung punya ujung. Curhatannya membuat pak guru yang masih single ini kelimpungan.

Kasus ini masalah besar dan sensitif. Anak ini cerita bahwa dia mendapati ada benjolan besar di paydarnya (Pasti mikir. Jangan mikir aneh-aneh ya!).

“Yang kiri atau kanan ya?”

Watau.

What the hell? Dia ketakutan kalau itu kanker ganas. Dia juga takut cerita pada orang tuanya. Wuih, stress aku. Bodohnya aku sampai keceplosan bilang:

“Bagaimana kalau aku saja yang periksa”.

Kesempatan, kan? Jangan sia-siakan kesempatan ini Aliii. Ini cita-citamu sejak lama. Bunga mimpi tidur-tidur malammu.

(Bohong ding!).

Jujur, aku parno. Karena, aku punya Budhe yang juga terkena kanker payudara. Tahun 1997. Karena terlambat untuk mengetahui bahwa kanker itu sudah stadium lanjut. Meski telah diangkat habis. Tuhan mengambilnya 4 bulan setelah kankernya terangkat.

Akhirnya aku tawarkan ke dia, “Bagaimana kalau kita ke Rumah Sakit saja? Kita periksa, biar tau kejelasannya. Aku yang bayar”.

Dia tidak mau, karena dia takut kalau ternyata itu penyakit, nanti dia malah down.

Akhirnya aku minta sahabatnya untuk membujuknya. Aku beri dia waktu untuk berpikir. Dan minggu depannya kami ke Rumah Sakit. Senin selepas upacara, aku bonceng dia dengan sepeda motor KALILA item jelekku ke PRODIA di Jalan Pangsud Gresik. Karena dokternya belum juga datang, kami menunggu sangat lama. Makin galau anak ini. Eh, dia malah nangis. Gero-gero.

Sumpah, aku paling takut kalau ada cewek nangis di depanku, apalagi cewek seksi berseragam SMA. Berurai air mata di hadapanku. Tau apa yang aku bayangkan. Aku khawatir para pegawai laboratorium menyangka aku ke sana mengajak cewekku untuk tes kehamilan atau malah mau menggugurkan kandungan (Naudzubillah). Horor pokoknya.

Semua mata memandang, aku semakin menciut. Aku minta dia untuk diam, malah airmatanya makin deras.suaranya makin kenceng. Huaaa! Jilbabnya basah air mata. Tatapan pegawai Prodia seolah menuduhku lelaki kurang ajar, tak berpendidikan, tak pernah makan bangku sekolahan. Lelaki tukang garong.

Nasibku sebagai guru memang lucu dan menjijikkan sekali. Aku sendiri jijik dengan diri sendiri.

Ea!

Setelah 2 jam, dokter datang. Seorang dokter perempuan seksi sekali. Dokter itu minta siswiku ini masuk ke ruangan, mau diperiksa.

Nah, gobloknya aku, aku malah ikut menerobos pintu untuk ikut masuk. Eh, dokternya tahu mungkin kalau aku ada niat MODUS. Kesempatan dalam keinginan yang terpendam.

“Mas, mau ngapain ikut ke dalam?” Dokter cantik itu bertanya dengan suara keras, bergema seantero ruangan.

Semua orang melihatku dengan tatapan jijik. Huaaaa, rasanya pingin nangis sambil gulung-gulung di lantai.

“Dokter busyet. Pelanin dikit kek ngomongnya, namanya juga orang panik. Gak gaul tuh dokter. Bisanya cuma mempermalukan orang yang urat malunya tinggal serambut”.

Tapi, jujur maluuuu banget dilihatin orang-orang. 45 menit kemudian tes selesai. Jangan tanya aku bagaimana teknis pengetesannya ya!. Kan tahu sendiri aku gak berhasil ikut masuk. 3 jam lagi hasil LAB bisa diambil. Aku ajak anak ini ikut ke dokter gigi langgananku. Dokter Jamsostek. Aku ingin periksa gigi rutin sekalian cabut kesialan dan kebodohanku.

Hujan deras sekali saat itu, aku nangkring di atas kab mobil di parkiran. Emang burung, nangkring. Menunggu antrean dokter gigi.

Setelah dari dokter gigi, kami cari makan. Dan minum yang anget-anget. Lupa makan di mana, yang jelas tempat makannya pasti yang murah. Maklumlah guru kere(n). Punya uang hanya kalau setelah menang lomba karya ilmiah dan menulis saja. Itu pun segera habis setelah dibuat selametan dua sekolahan. Tekor bandar. Hihihi. Tapi Alhamdulillah. Pernah kaya. Berkali-kali. Memang lomba. Puluhan juta. Lalu tinggal sejarah.

Syukur, singkat cerita, kami kembali ke Prodia, dan dokter itu memberi hasilnya. Intinya benjolan itu memang ada, tapi tidak bahaya. Alhamdulillah. Senang sekali rasanya, hasil tes kehamilannya negatif. Jadi tidak ada pertanggungjawaban apa-apa. Hahaha. Aku bisa melanjutkan keusilanku pada siswi yang lain. Hokya!

Becanda ya.

Tapi, dokter pesan. Harus ada pengobatan lanjutan, besoknya harus ke Prodia lagi. Aku semangat untuk ajukan diri. Bagian mengelus dada. Hahaha.

Kami pulang dengan perasaan lega setelah aku membayar semua tagihan ke kasir. Aneh ya? Sampai sekarang aku masih merasa perjalanan hidupku itu aneh banget, absurd.

Lha, logikanya kan banyak guru yang lebih senior, guru perempuan jumlahnya 50-an orang. Tentu mereka lebih cocok menangani kasus sensitif nyerempet-nyerempet ke daleman begini daripada aku guru single yang gak tahu apa-apa. Tapi suka penasaran. Hohoho!

Meski ingin tahu sebenarnya. Ingin merasakan. Gimana rasanya dikeplak helm. Hokya!

Normallah sebagai lelaki yang suka nyerempet-nyerempet dosa. Ah, Sudahlah. Akhirnya kasus ditutup. Happy ending. Yang cantik bisa tersenyum. Yang jomblo tetap awet. Huaa!

My name is Alie. I am from Lamongan. I am not a terrorist.

Lamongan, 5 Mei 2020

Diambil dari catatan “GURU JUGA MANUSIA” berisi 65 catatan gokil dengan kadar gila yang ditulis oleh Mahfud Aly. Cerita ini sudah dibaca oleh tokoh utama cerita dan sudah diberi izin untuk dipublikasikan. Anaknya sangat cantik. Namanya adalah Ea! Ea! Ea!

© 2020 All right reserved

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Kisah Nyata