Connect with us

Kolom

Lulus CPNS dengan Pertanyaan: “Bayar berapa?” (1)

“Lulus kau? Bayar berapa?”.

Euforia kelulusan CPNS bisa mendadak hilang setelah mendengar pertanyaan itu. Bagaimana tidak.Rangkaian usaha keras yang dilakukan selama ini, serasa tidak ada harganya.

Cuma karena pameo sistem penerimaan yang tidak akuntable. Dan ulah segelintir calo yang mengambil manfaat dari membludaknya peminat untuk menjadi abdi negara. Membuat keberhasilan seseorang disamaratakan.

Itu pula yang saya rasakan sembilan tahun lalu.


Sabtu, pekan kedua Desember 2010. Nokia 8250 saya meraung-raung selepas subuh. Tertera nama Jembenk di layarnya yang biru. Beliau teman kuliah.

“Halouw. Selamat ya,” katanya tanpa basa-basi dari ujung speaker. Kedua alis saya bertaut mendengarnya.

“Selamat apa mbenk,” tanya saya singkat. Tangan kiri saya sibuk mengencangkan ikatan handuk yang menggantung di atas pinggang. Begitu biasanya sebelum mandi.

“Heleh. Masak nggak tahu. Kau baca di koran lah. Ada namamu di situ,” ucapnya lagi. Suaranya yang biasanya melengking, timbul tenggelam di udara.

“Nama apa? Aku belum ada baca koran mbenk. Baru jam berapa ini,” mata saya melirik putaran jarum jam yang menempel di atas kelambu. Berharap belas kasih agar diberikan penjelasan lebih lanjut.

“Ya udah. Nanti kau bacalah koran. Udah ya. Pokoknya selamat.” Klik. Sambungan lokal itu pun terputus.


Tali gas Supra Fit saya putar dalam-dalam. Membuatnya berakselerasi di antara kerumunan angkot, truk kontainer, dan becak mesin yang memadati jalanan di Kawasan Industri Medan (KIM).

Istri saya duduk manis di boncengan. Sudah jadwal rutin untuk mengantarnya kerja. Telepon dari Bambang Hermanto juga saya rahasiakan. Sengaja. Maksudnya ingin memberi kejutan.

Lagian, tujuan bicaranya juga belum jelas. Bambang malah memberikan clue seolah saya sedang menghadapi kuis ‘Who Wants to be a Millionaire.’

Karena itu sejak berangkat, istri saya acuhkan. Pertanyaannya juga saya diamkan. Sebab sepanjang mengaspal, konsentrasi saya hanya satu: Bagaimana caranya bisa mendapatkan koran dengan segera. Agar tidak kehabisan.

Maklum. Rupanya hari itu adalah pengumuman seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Formasinya dibuka secara besar-besaran pada beberapa kabupaten dan kota yang ada di provinsi Sumatera Utara. Hanya saja, pengumumannya cuma ada di koran. Belum canggih seperti sekarang ini.


“Lulus kau dek,” tanya sang penjual dengan logat Toba. Wanita. Paruh baya. Kiosnya sederhananya berada tepat pada persimpangan KIM dan jalan regular Medan – Belawan.

Hanya ada beberapa jajanan yang dipajang di situ. Selebihnya hanya deretan botol minuman bersoda yang sudah kosong.

Sambil melemparkan senyum, saya petik barisan koran yang sudah digantung. Karena itu si ompung boru tadi tertarik untuk bertanya.

“Tadi pagi ditelpon kawan pung. Katanya lulus. Inilah makanya mau ditengok,” jemari saya mulai menyisir. Menyusuri satu demi satu ribuan baris nama yang sudah dicetak di harian nasional terbitan Medan.

(bersambung)

loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Kolom

error: Content is protected !!