Connect with us

Kolom

Membongkar Kesesatan di Pameran Artefak Nabi di Medan

pameran artefak nabi

Pameran artefak Nabi di Pekan Raya Sumatera Utara disambut antusias warga Medan. Dengan harga tiket Rp60ribu/dewasa dan Rp30ribu/anak-anak, event ini menyedot ribuan pengunjung per hari.

Namun jika diamati dengan seksama, banyak kesesatan tersembunyi di acara tersebut.

Ketua panitia pameran, Syahbudi Mansa, memastikan artefak yang dipamerkan asli dan berasal dari Turki, Yordania, Suriah , Arab Saudi, dan India.

“Barang-barang koleksi itu, merupakan aset warisan turun-temurun seorang profesor arkeologi asal Malaysia, bernama Haji Embong, yang telah memiliki sertifikat yang diakui dunia internasional soal peninggalan benda bersejarah itu,” ujarnya.

Apakah ada pihak dan lembaga yang bisa memastikan pengakuan ketua panitia pameran? Kalau soal ngaku mengaku, bocah SD pun pintar. Tapi untuk urusan sepenting ini, harus ada pihak berwenang yang memastikannya.

Jika memang artefak nabi itu asli, apakah elok megeruk keuntungan dari benda-benda tersebut.

Dari hitungan secara minimal, harga tiket Rp60ribu dengan pengunjung 1000/hari saja, panitia sudah bisa meraup Rp1,8 Miliar per bulan.

Panitia pintar memanfaatkan antusias warga Medan. Mereka sukses menarik pengunjung dengan memanfaatkan fanatik buta terhadap agama.

Cara-cara tersebut juga banyak diterapkan di berbagai produk. Dengan memakai nama merk Islami, di-endorse artis berhijab, produk pun laku seperti kacang goreng. Padahal bisa saja produk tersebut buatan China.

Seperti juga saat sanak saudara pergi umrah atau haji. Pulang membawa oleh-oleh dari Arab Saudi. Setelah dilihat bagian belakang, tertera tulisan Made in China.

Dan tahukah kalian, kurma yang membanjiri Indonesia saat bulan Ramadhan berasal dari Thailand! Negara mayoritas non Muslim, yang hobby menzalimi etnis muslim Rohingya!

Pola hidup konsumtif ditambah fanatik buta terhadap Agama, membuat rakyat Indonesia jadi sasaran empuk untuk dikeruk.

Dan kesesatan yang paling parah dari pameran artefak nabi di Medan adalah, menggiring pengunjung untuk mengkultuskan benda-benda peninggalan Nabi dan sahabat. Yang berujung kepada kesirikan.

Ini sama seperti penerapan sunnah nabi. Banyak yang memilih menerapkan apa yang ‘terlihat’. Seperti bercelana cingkrang atau berjenggot panjang.

Sebenarnya masih wajar. Namun menjadi tidak wajar dan tidak waras, ketika kemudian mereka yang bercelana cingkrang dan berjenggot menasbihkan diri sudah HIJRAH. Dengan arti kata lain, yang tidak seperti itu, berarti belum hijrah.

Bagaimana mungkin, ada orang yang melarang saudaranya merayakan maulid nabi, tapi menangis saat melihat artefak nabi?

Tetesan air matamu saat berada di pameran artefak nabi, bukan berarti kau sudah cinta nabi seutuhnya.

Jika kau masih menutup matamu pada penderitaan tetanggamu.

Jika kau memutus silaturahim ke orang yang berbeda pandangan politik atau berbeda madzhab.

Jika emosimu langsung meledak-ledak saat membaca tulisan ini.

loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Kolom

error: Content is protected !!