Connect with us

Historical

Misteri Makam Kramat Glugur di Medan, Pernah Jadi Rujukan Hari Jadi Kota Medan

Menurut Dada Meuraxa yang merujuk Begraafplaats Rapport 1938, makam Kramat Glugur ini bernama Said Tahir asal Jawa yang dimakamkan tahun 1570. Dua puluh tahun dari klaim ulang tahun kota Medan yang konon didirikan tahun 1590.

Makam Kramat Glugur ini berada di Jalan Putri Hijau Medan, tidak jauh dari Sei Deli tepat di depan rumah sakit Putri Hijau. Makam di pugar Belanda dengan bangunan kokoh dan monumental, pertanda ini makam ulama Islam yang penting.

Banyak makam ulama Islam lain sekitar Medan, tapi tidak dipedulikan Belanda. Yang satu ini benar-benar lain, kenapa demikian ?

Kontras dengan Belanda yang memperhatikan dan membuatkan monumennya, pemerintah RI cq. “Medan Rumah Kita” membiarkannya terjepit diantara kedai nasi dan rumah warga sebagai mana nampak dalam gambar.

Karena terjepit bangunan lain, sia sia, kita tak akan bisa mengabadikan foto arsitektur monumen penghargaan Belanda pada ulama Islam ini.

Sebagai mana makam yang dikeramatkan, sejumlah legenda dan mitos pun menyertainya di sini. Ada bunga, bendera warna warni dan kain kuning emas penutup nisan.

Saat patik berkunjung jelajah Remadhan ke makam Kramat Glugur ini 4.6.2017, jumpa Ibu juru peliharanya boru Nasution yang garang, patik pun disemprotnya.

Dia melarang dan melabrak orang yang coba foto nisan ini. Yang terlanjur moto dimintanya hapus dari kamera (kecuali curi curi minta izin sama ahli qubur).

Bukan apa apa, katanya, banyak yang dapat celaka bahkan meninggal jika coba memfotonya. Juru pelihara bilang : “kadang makamnya bergerak, bulan puasa begini lagi datang rohnya. Ini bukan makam orang sembarangan, yang kunjungipun orang luar negeri.

Baru-baru ini yang datang ziarah dari Yaman, nginapnya di hotel Mariot” sambil tangannya menunjuk hotel megah yang memang tak jauh dari makam ini.

Patik teringat tahun 2013 ada mahasiswa sejarah Unimed bimbingan patik, Daniati namanya, menulis skripsi “Identifikasi dan Dokumentasi Nisan Nisan Kuno di Medan” termasuk makam ini. Dia bercerita juga mendapat kesulitan memfoto nisan ini.

Entah, apakah angka tahun nisan 1570 itu sudah dirubah atau ada dua makam yang satu tidak kelihatan?

Pengakuan sang juru pelihara, makam Kramat Glugur ini dipindahkan dari bawah ke atas , jadi ada dua pasang batu nisan untuk jenazah yang sama.

Yang satu nisan kuno, yang satu dibuat baru. Nah, nisan yang baru itu dibuat namanya Syech Bachrin dari Syam (Haldramaut?) usia 200 tahun, wafat 1716.

Keterangan sang juru peliharapun berubah ubah, kadang katanya ini makam dari Yaman, kadang disebutnya salah satu makam Wali Songo datang dari Cirebon. Tapi ah, yang penting katanya : ” ini makam guru besar Sultan Deli yang pertama”.

Selalu begitu di makam keramat ada banyak cerita berlapis.

Sementara Dada Meuraxa menanyakan apakah inilah makam ulama Islam lama asal Jawa yang disebut Guru Patimpus dalam Riwayat Hamparan Perak?


Nisan makam Keramat Glugur ini diselimuti misteri. Kenapa Belanda memugarnya? Benarkah karena ini makam “guru besar” Sultan Deli?

(Ichwan Azhari, sejarawan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Historical