Connect with us

Kolom

Nggak Lulus Sekolah Negeri Bukan Berarti Kiamat

sekolah negeri

Sorot matanya meneliti satu per satu daftar nama yang menempel di dinding sekolah negeri itu. Ada sekitar lima kali ia melakukannya. Akhirnya menyerah. Pandangannya dialihkan ke arah ku.

Aura kecewa tampak jelas saat ia bilang, “Ai gak lulus, yah”

Kecewaku sebenarnya berkali lipat darinya. Tapi saat itu, kuberusaha untuk menutupinya. Sambil kurangkul layaknya seorang sahabat, kuajak dia menjauh dari keramaian orangtua yang ingin melihat daftar kelulusan di SMAN 3 Medan.

“Nggak apa bang, kita daftar di sekolah swasta aja ya. Banyak sekolah swasta yang bagus di Medan, kok,” kataku.

“Atau kalau abang mau, ayah usahakan masuk dari jalur khusus,” ujarku lagi.

Sebelumnya memang kudengar selentingan, ada jalur masuk khusus ke sekolah favorit tersebut. Tinggal mencari linknya dan menyediakan fulusnya. Link dan fulus sudah bagaikan dwitunggal kehidupan sosial di Medan. Jika ada keduanya, segala urusan cepat beres.

“Nggak usah yah, sayang lah duitnya,” balas Ai. Mendengarnya membuat kecewaku ambyar.

Nilai Ai sebenarnya masuk 5 besar tertinggi di sekolahnya, SMP Swasta Pertiwi. Salah satu sekolah swasta terbaik di Medan.

Sistem zonasi membuatnya harus rela melihat puluhan teman SMP-nya yang punya nilai di bawah, bisa lulus ke SMA favorit.

Ia pernah cerita, beberapa orangtua temannya ada yang membuat Kartu Keluarga baru dengan alamat yang dekat dengan sekolah tujuan. Tujuannya, supaya lebih berkesempatan untuk lolos.

Mungkin stereotipe zaman now ini adalah, masuk sekolah favorit adalah langkah awal kesuksesan. Seperti juga pola pikir kebanyakan para calon mertua yang lebih memilih menantu seorang PNS. Karena PNS dianggap salah satu pintu kebahagiaan.

Namun mereka lupa, Jalaluddin Rumi pernah bilang, keinginan adalah sumber penderitaan. Apalagi keinginan yang terlalu dipaksakan. Dan yang pasti, mereka yang sudah menggunakan cara salah untuk menggapai tujuannya itu, belum siap untuk menderita.

Sekarang Ai sudah melupakan kisah dipaksa gagal oleh zonasi tersebut. Ia sudah duduk di kelas XI. Untuk menyemangatinya, sering kuceritakan kisah seorang teman, sebut saja namanya Bambang Puja Kesuma. Yang dulunya sempat mandi oli bekas, sekarang jadi pengusaha berkelas.

Dan cerita ini pastinya akan seperti dejavu. Terulang tiap tahun. Selama sistem zonasi masih berlaku.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Kolom