Connect with us

Historical

Perang Sunggal, Kisah Pengkhianatan dan Kepahlawanan yang Terlupakan

Tak banyak yang mengetahui sejarah Perang Sunggal. Padahal perang tersebut adalah salah satu perang terlama yang terjadi di Indonesia. Yang terjadi selama 23 tahun. Dari 1872 hingga 1895.

Ahli sejarah dan tokoh adat Melayu, Tengku Lukman Sinar pernah mengatakan, tidak ada seorang pun dinobatkan menjadi pahlawan dalam Perang Sunggal merupakan cacat sejarah.

Dia memperkirakan Perang Sunggal yang mendapat medali khusus di Museum KNIL di Bronbeek Belanda, itu terbenam dalam sejarah perjuangan bangsa, karena perang itu disebut Belanda perang Batak Oorlog, sehingga yang muncul sebagai pahlawan nasional hanya Sisingamangaraja XII.

Devide et Impera

Pada 1870 Sultan Deli VIII Mahmud Perkasa Alam memberikan tanah subur dalam wilayah Sunggal untuk konsensi perkebunan kepada Maskapai Belanda De Rotterdam dan Deli Maschapij. Kenyataan ini tidak
bisa diterima oleh rakyat Sunggal, sehingga menimbulkan kemarahan.

Dengan dukungan rakyat, Datuk Badiuzzaman Surbakti dan adiknya, Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti angkat senjata terhadap pemerintah Belanda yang dibantu oleh Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam yang dianggap sudah menghianati Sunggal.

Kesultanan Deli disebut sebagai anak beru, sebab pada hakikatnya Kesultanan Deli berdiri disebabkan adanya pernikahan antara Gocah Pahlawan, sultan pertama Kesultanan Deli, dengan Nang Bahaluan, adik Datuk Hitam Surbakti dari Kedatukan Sunggal.

Datuk Badiuzzaman Surbakti awalnya menggalang kekuatan. Dengan mempersatukan beberapa etnis seperti Karo, Melayu, Aceh, dan Gayo.

Kemudian juga berkoalisi dengan Datuk Sulung Barat Surbakti, Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti, Datuk Muhammad Jalil Surbakti, Datuk Muhmmad Dini Surbakti.

Mengingat persenjataan Belanda yang lebih canggih, pasukan Datuk Badiuzzaman Surbakti menggunakan teknik dan strategi perang gerilya. Salah satunya dengan melancarkan aksi sabotase di sejumlah tangsi kompeni dengan cara membakar dan membubuhkan stempel musuh berngi (musuh malam).

Pihak Belanda mencatat betapa hebatnya Perang Sunggal. Hingga membuat Belanda kewalahan. Apalagi di tahun yang sama, juga terjadi Perang Aceh.

Akibat peperangan itu, banyak datuk Sunggal yang dibuang ke Pulau Jawa seumur hidup. Dua diantaranya yakni Datuk Badiuzzaman Surbakti dan adiknya, Datuk Alang Muhammad Bahar. Masingmasing dibuang ke Cianjur dan Banyumas.

Saat ini bukti kedua orang Melayu dari Kedatukan Sunggal yang dibuang ke Cianjur dan Banyumas itu makamnya dikenal dengan sebutan Makam Istana Deli.

Datuk Badiuzzaman Surbakti, Panglima Perang Sunggal yang Terlupakan

Datuk Badiuzzaman Surbakti adalah orang Karo yang beragama Islam. Bernama asli Datuk Sri Diraja Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti.

Lahir di Kerajaan Sunggal yang kala itu bernama Serbanyaman (sekarang menjadi Kecamatan Medan Sunggal). Ayah Datuk Badiuzzaman adalah Datuk Abdullah Ahmad Sri Indera Pahlawan Surbakti, seorang Raja Sunggal yang termahsyur. Dan ibunya bernama Tengku Kemala Inasun Bahorok.

Ketika Datuk Abdullah Ahmad Surbakti (ayah dari Datuk Badiuzzaman Surbakti) meninggal dunia pada tahun 1857. Kala itu, usia Datuk Badiuzzaman Surbakti berusia 12 tahun.

Dalam perjalanan hidup, Datuk Badiuzzaman Surbakti menikah dengan Ajang Olong Besar Hamparan Perak. Dikaruniai tujuh orang anak, lima anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Anak laki-laki Datuk Badiuzzaman bernama Datuk Muhammad Mahir Surbakti, Datuk Muhammad Lazim Surbakti, Datuk Muhammad Darus Surbakti, Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti, Datuk Muhammad Alif, Amah atau Olong Beru Surbakti, dan Aja Ngah Haji Surbakti. (Sumber: Biografi Datuk Badiuzzaman Surbakti, Universitas Sumatera Utara, tanpa tahun).

Masjid Raya Datuk Badiuzzaman Surbakti, Usianya Lebih Tua dari Mesjid Raya Medan

Sangat disayangkan nama Datuk Badiuzzaman Surbakti tidak pernah disebut secara di buku-buku sejarah yang dipelajari di sekolah. Hal tersebut dikarenakan sekolah di Sumatera Utara banyak mengambil buku dari penerbit di Jawa. Hingga banyak sejarah Sumatera Utara yang terancam hilang.

Barangkali, satu-satunya jejak untuk menelusuri biografi Datuk Badiuzzaman Surbakti dimulai dari Masjid Raya Datuk Badiuzzaman Surbakti Jalan PDAM Sunggal No. 1 Medan.

Masjid Raya Datuk Badiuzzaman dibangun tahun 1885 (1306 Hijriah). Jadi, lebih tua Masjid Raya Datuk daripada Masjid Raya Al-Mashun.

Masjid inilah yang konon terbuat dari putih telur dicampur pasir sungai. Karena pada saat itu semen dilarang Belanda masuk ke teritori Sunggal.

Di sekitar Masjid Raya Badiuzzaman Surbakti terdapat kuburan kerabat lain dari keluarga Kerajaan Sunggal. Kecuali, makam dari Datuk Badiuzzaman Surbakti. Di sinilah mata rantai sejarah Kerajaan Sunggal terputus.

Referensi:
• Erwiza Erman, (1985). Pemberontakan Sunggal di Deli, Majalah Ilmu-ilmu Sosial Indonesia, XII, I, Edisi April 1985.
• http://datukkhairilanwarsurbakti.blogspot.com/2008/ 11/perang-sunggal-pertempuran-tanpa.html

loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Historical

error: Content is protected !!