Connect with us

Historical

Perjalanan Tjong Bersaudara di Medan : Dari Judi, Candu Hingga Rumah Ibadah

Tjong Bersaudara
Prev1 of 3
Use your ← → (arrow) keys to browse

Menjadi kaya raya tidak bisa diraih dalam waktu satu malam. Harus bekerja ekstra keras. Seperti sebuah kisah perjalanan hidup Tjong bersaudara yang sukses di Medan ini.

Tjong bersaudara yang berbeda usia tujuh tahun, berasal dari Sungkow, Distrik Mei Xian, Guangdong, Tiongkok Selatan.

Tjong Yong Hian lahir pada tahun 1850 sementara adiknya Tjong A Fie tahun 1857. Mereka sama-sama tidak melanjutkan sekolah dan membantu menjaga toko kelontong milik ayah mereka.

Saat berusia 17 tahun atau pada tahun 1867, Tjong Yong Hian memutuskan meninggalkan kampung halamannya untuk mengubah hidup menjadi lebih baik.

Dia merantau ke Batavia. Dari Pelabuhan Shantou, dia berlayar mengarungi Laut China Selatan. Setelah 21 hari di laut, dia akhirnya tiba di Batavia.

Ia hanya tiga tahun di Batavia dan pindah ke Kota Medan yang saat itu masih disebut Deli Tua. Dia berniat memulai usaha sendiri dengan tabungannya. Niatnya itu terwujud pada tahun 1870.

Benny G Setiono dalam “Tionghoa dalam Pusaran Politik” menyebutkan, Tjong Yong Hian memulai usahanya dengan membuka toko untuk memasok berbagai kebutuhan perkebunan tembakau dan kelapa sawit milik orang-orang Belanda.

Dia juga memasok buruh perkebunan dari daratan Tiongkok. Dari sejumlah usahanya, dia paling banyak mendapat keuntungan dari perdagangan candu dan rumah judi.

Sebab, saat itu, buruh perkebunan sangat bergantung pada candu. Jika tidak memperoleh candu, mereka kehilangan semangat bekerja.

Namun, kata Benny G Setiono, pemilik perkebunan lah yang sengaja membuat mereka bergantung pada candu dan perjudian. Dengan begitu buruh akan menghabiskan penghasilannya. Saat kontrak kerja mereka selama tiga tahun berakhir, alhasil buruh tidak bisa kembali ke daerah asalnya.

Situasi ini dimanfaatkan para pemilik perkebunan untuk tetap mempekerjakan mereka. Tidak perlu lagi mengeluarkan biaya mendatangkan buruh baru.

Sepertinya kesuksesan Tjong Yong Hian di Medan menjadi inspirasi bagi adiknya. Lima tahun kemudian, Tjong A Fie yang saat itu berusia 18 tahun menyusulnya ke Sumatra.

Hanya berbekal uang 10 perak Manchu yang dia ikatkan ke ikat pinggangnya. Berbulan-bulan dalam pelayaran, tibalah Tjong A Fie di Labuhan Deli, kota kecil di pantai timur Sumatera pada tahun 1880.

Meskipun kakaknya Tjong Yong Hian sudah berhasil dan dikenal sebagai pemuka masyarakat Tionghoa, Tjong A Fie tidak mau tergantung padanya. Dia bekerja di toko kelontong milik Tjong Sui Fo. Mungkin karena terbiasa menjaga toko milik ayahnya, dia tidak menemukan kesulitan.

Dia melayani pembeli, memegang bagian pembukuan, menagih utang, dan pekerjaan serabutan lain. Selama bekerja pada Tjong Sui Fo, dia juga ditugaskan mengantar barang ke penjara sehingga sering mengobrol dengan para narapidana.

Belakangan, Tjong A Fie semakin dikenal karena pintar bergaul. Di Labuhan Deli, dia dipercaya menjadi pengawas kuli kontrak dari Tionghoa. Ia juga sering diminta menjadi penengah ketika ada perselisihan antara orang-orang Tionghoa maupun dengan pemerintah Hindia Belanda.

Saat itu, sering terjadi kerusuhan di kalangan buruh perkebunan Belanda karena latar belakang suku dan etnis. Hal ini membuat Belanda kerepotan.

Pemerintah Hindia Belanda lalu mengangkatnya menjadi letnan Tionghoa. Dia diminta pindah ke Kota Medan sehingga harus berhenti bekerja dari toko Tjong Sui Fo. Dalam waktu singkat, Tjong A Fie diangkat menjadi kapten pada tahun 1895.

Di Medan, Tjong A Fie bergaul sangat luas. Ia dikenal pedagang yang luwes dan sangat dermawan. Dia membina hubungan baik dengan Sultan Deli, Makmoen Al Rasyid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Moeda. Tjong A Fie bahkan menjadi orang kepercayaan Sultan Deli untuk mewakilinya dalam berbagai urusan bisnis.

Reputasinya yang baik membuat namanya kian tersohor. Selain menjadi kepercayaan Sultan, Tjong A Fie menjalin hubungan dengan pedagang lain, termasuk dari Eropa dan pejabat pemerintahan setempat.

Hubungan baik dengan Sultan Deli menjadi awal kesuksesan Tjong A Fie dalam bisnis. Dia mendapat konsesi penyediaan atap nipah dari sang Sultan untuk pembuatan bangsal-bangsal di perkebunan tembakau.

Prev1 of 3
Use your ← → (arrow) keys to browse

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Historical