Connect with us

News

Viral! Surat Keluhan Pungli di Taman Ahmad Yani Medan

taman ahmad yani

Netizen bernama Bunda Indri (Indri) mengeluhkan pungutan liar di Taman Ahmad Yani Medan. Alasan demi alasan dilancarkan. Demi memuluskan pungli oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mulai dari uang kebersihan, hingga biaya parkir yang seenaknya.

Di laman facebooknya, Indri menjelaskan secara detail. Tentang kronologi pemakaian taman untuk kegiatan sosial, hingga berbagai jurus pungli.

SURAT KELUHAN

Yang terhormat Bapak yang berwenang di Taman Ahmad Yani Medan.

Ijinkan saya memperkenalkan diri. Saya Indri dari Komunitas Anak. Yang berkegiatan sosial setiap bulan sekali di taman Ahmad Yani sejak tahun 2015. Kegiatan kami mencakup bermain bersama, kreativitas, dan mendengarkan dongeng.

Kegiatan tersebut gratis dan terbuka untuk siapa saja. Tujuan kami agar anak anak Medan bisa tahu bahwa ada taman indah di Kota Medan, dan bisa bermain bebas tanpa ada gadget di tangan.

Awal saya survey di Taman Ahmad Yani tersebut, saya mendapati perlengkapan taman tersebut baik sekali fasilitasnya. Mushola ada, bisa wudhu, ada akses menggunakan listrik dan kamar mandi umumnya bisa dipakai dengan infak seikhlas hati. Saya dan teman2 lalu bertanya apakah taman tersebut bisa digunakan untuk kegiatan sosial, dan yang menjaga taman bilang boleh selama kami menjaga kebersihan sampah.

Kami menjalankan kewajiban itu Bapak yang terhormat. Saat kami datang kami menyapu, dan saat kami pulang kami kembali membersihkan semua sampah yang ditimbulkan dari aktivitas kami. Sebagai ucapan terima kasih kami menyelipkan uang sebesar 30rb kepada penjaga Taman Ahmad Yani.

Semakin lama anak anak di Kota Medan makin banyak berkumpul untuk bergembira bersama.

Baca Juga : Tiga Pria Lapor Polisi Gara-gara Kehilangan Ekstasi

Tapi semakin lama saya merasa ada keanehan, tempat wudhu di mushola mulai tidak bisa digunakan. Mati kerannya.

Lalu kamar mandi mulai dijaga keras dan wajib membayar 2rb sekali masuk, padahal Bapak bisa bayangkan anak usia 5 tahun ke bawah akan sering ke kamar mandi. Dan ucapan terima kasih kami menjadi iuran wajib dan mereka minta tambahan menjadi 50rb sekali kami buat kegiatan.

Pernah saya sengaja tidak membayar, bulan depan penjaga taman itu marah marah. Saya sebenarnya tersenyum melihat reaksinya, karena saya sebenarnya sudah mulai menyadari niat beliau. Dan makin hari, iuran itu semakin meningkat permintaannya.

Belum uang parkir yang luar biasa tarifnya dan tidak stabil. Kadang 3rb. Kadang 5rb. Kadang sudah di awal dibayar eh waktu keluar diminta lagi, alasannya bukan dia yg menjaga. Perlu ngotot2an dan selalu ribut. Membuat letih hati.

Masuk awal tahun lalu, saya berbincang dengan sahabat saya pak Bathara Surya Yusuf yang lebih paham dengan penggunaan fasilitas umum seperti itu. Dan beliau menyampaikan bahwa sebenarnya Bapak tidak pernah ada menginstruksikan agar relawan komunitas seperti kami ini membayar apapun. Dan beliau diwakilkan seorang sahabat lainnya bang Wari AL Kahfi untuk mediasi ke penjaga taman itu.

Dari hasil mediasi itu, tidak akan ada pembayaran apapun untuk menggunakan fasilitas umum. Dan damai damai saja pada hari diskusi itu berlangsung. Tidak ada debat atau selisih paham.

Tapi efeknya luar biasa yang kami terima Bapak yang kami hormati. bulan pertama setelah kejadian itu kami didatangi oknum satpol yang membentak bentak menanyakan surat ijin kegiatan kami. Lalu kami mengurus surat ijin tersebut dan ditandatangani langsung kepala pertamanan, saat bulan berikutnya saat mereka datang dengan petentengan, mereka harus mundur karena surat itu sudah kami urus.

Berakhirkah??

Tidak pak, bulan berikutnya datang dan meminta uang kebersihan. Padahal areal yang kami gunakan steril dari sampah. Mereka ngotot dengan mengatakan kami tidak pengertian. Setelah debat yang dilihat anak anak akhirnya mereka mundur.

Hari ini, tepat 9 September 2018 kami kembali membuat kegiatan di taman itu dan dipaksa untuk tidak menggunakan listrik taman yang saya yakin dibayar negara dengan uang pajak masyarakat.

Saya ingin bertanya Bapak yang bijaksana, apakah memang begitu peraturannya?? Mohon ajari kami yang ingin membahagiakan anak anak Medan ini.

Apakah tidak ada keringanan buat kami, komunitas yang ingin berbagi ini dalam menggunakan fasilitas umum?

Semoga Bapak tidak terganggu menerima surat saya ini. Dan semoga kita bisa menjadikan Medan ini Kota yang ramah anak, dan ramah pada penggiat sosial. Maafkan jika ada kata kata yang tidak berkenan di hati bapak.

Salam Hebatkan Anak Indonesia

Indri

loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in News