Connect with us

Kuliner

Warung Nasi Gandeng Siantar, Menunya Sederhana, Tapi Pelanggannya Antri, Buka Cuma 2 Jam

Warung Nasi Gandeng hanya beratap seng berlantai tanah. Menunya pun sederhana. Namun pelanggannya membludak. Hingga dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, nasi beserta ‘jajarannya’ sudah ludes.

Warung Nasi Gandeng itu sudah ada sejak tahun 1957. Buka cuma sekitar 2 jam, mulai pukul 07.00 sampai pukul 09.00. Letaknya persis berhadap-hadapan dengan kantor besar PT STTC di Jalan Pattimuta atau di belakang Ramayana Plaza.

Tapi jangan harap terpajang merek di warung yg cuma ada 2 meja dan 4 bangku panjang, dengan sebuah steling bertingkat dua. Untuk makan, harus berdesak-desakan. Pun harus rela tak dapat tempat, jadi duduk di trotoar. Pantat dilapis pembungkus nasi biar celana tak jorok. Bahkan ada yg sampai makan di mobil. Pintunya dibuka biar angin semilir masuk.

Begitu warung itu dibuka suasana sudah riuh. Ada pengunjung yg berebut centong hendak mengambil sayur. Padahal sayurnya gak pernah ganti menu. Kalau tak kacang panjang campur terong, daun ubi kering dgn kuah gulai dan sambal goreng atau sambal ulek mentah. Tambahannya timun dipotong-potong.

Sering terjadi ‘cekcok’ di warung itu. Penyebabnya karena terlalu banyak yg mau makan sementara tempat kurang. Maka banyak yg ngintip-ngintip tempat duduk. Belum selesai orangnya makan sudah ada yg nempel di belakang, bermaksud mengambil alih tempat duduk. Tapi semua riang. Makan makin lahap. Mau gandeng sampai tiga kali gak ada yg larang. Harganya pun gak bikin kantong koyak. Cukup bayar tigabelas ribu sudah sama gandengnya.

Lauknya juga cuma dua. Telur dan ikan. Ikannya pun sejenis. Kalau yang ada di pajak ikan hiu, maka menu hari itu akan ikan hiu semua. Cuma ada yg digulai, dipanggang, dan digoreng. Nah yg dipanggang ini yg cepat ludes. Banyak penggemarnya. Barulah besoknya ganti lauk. Bisa ikan tongkol, pari, atau mayung. Kalau lagi bagus, sesekali ikan tuna. Atau bonus hati ikan.

Pemiliknya adalah seorang perempuan, sudah 68 tahun. Seorang hajjah— tau karena sama sama berangkat dengan omakku ke Mekkah. Dia kami panggil dengan sebutan Mak. Mak ini suku Padang. Dia dibantu 6 pekerja dan seorang anak perempuannya yg memilih berhenti bekerja di bank. Masing masing mereka sudah punya tugas; dua orang bagian cuci piring, sisanya bagian ngantar nasi, dan seorang kasir.

Uniknya, di sini kalau mau minta tambah suara harus sedikit memekik; “Gandeng!” Maka akan diantar dua tapak kecil nasi tambah yg toppingnya dikasih bonus ikan, lalu ditumpahkan ke atas piring. Kalau suaramu pelan, hari kiamat nasi tambahmu baru diantar. Soalnya suasana di sana mulai gaduh.

Dan sebagian besar yg makan adalah laki laki. orang- orang tua. Berbagai profesi; mulai tentara, pak dewan, wartawan, tukang stiker, pareman, sampai tukang antar kopi pelanggan Nasi Gandeng itu. Dan kalau dulu pelanggannya luar biasa membludak. Tapi sekarang sedikit berkurang. Mungkin aku masuk ke generasi terakhir yg makan di situ. Selebihnya usianya di atas 40 tahun.

Dalam seminggu aku bisa makan 4 kali. Sisanya baru nyarik mie gomak atau nasi uduk. Dan mie gomak yg enak itu ada di Tomuan….

Oh iya, karena terbiasa makan nasi, aku tak punya penyakit maag….


Tulisan Alvin Nasution. Mantan pejabat di Jawapos Media Grup. Kini pengusaha advertising sukses.

loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement Dedicated Server Indonesia

Kontak Kami

Mau kirim tulisan? Mau usahanya diliput gratis? Dibaca ribuan orang per hari.

Silahkan kirim semuanya ke email BanyakCakapDotCom@gmail.com

Mau kaya raya?

Kerja lah cuyyy!!!!

Ayo Langganan Artikel, Gratis!

Silahkan tuliskan alamat email anda

Recent Posts

Advertisement

Title

More in Kuliner

error: Content is protected !!